THE NEW BLOGS

Showing posts with label INQUIRY LEARNING. Show all posts
Showing posts with label INQUIRY LEARNING. Show all posts

January 12, 2012

METHODE PEMBELAJARAN INQUIRY

Metode Pembelajaran Inquiry

Metode pembelajaran Inquiri berhubungan erat dengan pendekatan CTL (contextual Teaching and Learning), bahkan menjad inti pendekatan belajar CTL. Pendekatan contextual teaching and learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi ajar dengan situasi dunia nyata siswa. Yang dapat mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan para siswa sebagai angota keluarga dan masyarakat. Berangkat dari konsepsi ini diharapkan hasil pembelajaran akan lebih bermakna. Proses pembelajarannya akan berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan megalami, bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Dalam pembelajaran kontekstual ini didorong untuk mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya dan bagaimana mencapainya. Diharapkan mereka sadar bahwa mereka pelajari itru berguna bagi hidupnya. Dengan demikian mereka akan memosisikan dirinya sebagai pihak yang memerlukan bekal untuk hidupnya nanti.
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa untuk mencapai tujuannya. Maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas agar kelas menjadi kondusif untuk belajar siswa. Jadi pengetahuan atau keterampilan itu akan ditemukan oleh siswa sendiri, bukan apa kata guru. Dalam pembelajaran kontekstual ada motto “student learn best by actively constructing their own understanding” (cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya). Untuk penerapan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) ada tujuh aspek yaitu sabagai berikut:
1. Konstruktivisme (constructivism)
2. Menemukan (inquiry)
3. Bertanya (quetioning)
4. Masyarakat belajar (learning community)
5. Pemodelan (modelling)
6. Refleksi (reflection)
7. Penilaian autentik (autentic assessment)
Masnur Muslich (2007: 42) menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan kepada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atu pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting)
2. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning)
3. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermana kepada siswa (learning by doing)
4. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antarteman (learning in a group)
5. pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply)
6. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together)
7. Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi menyenngkan (learning as an enjoy activity).
Metode Pembelajaran Inquiry
Inquiry (kegiatan menemukan) menjadi ciri dan komponen CTL. Metode pembelajaran inquiry berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperolah sendiri oleh siswa. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.
Prinsip-prinsip penerapan model pembelajaran inquiry adalah:
1. Pengetahuan dan keterampilan akan lebih lama diingat apabila siswa menemukan sendiri.
2. Informasi yang diperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan bukti-bukti atau data yang ditemukan sendiri oleh siswa.
3. Siklus inquiry adalah observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), dan penyimpulan (conclussion)
4. Langkah-langkah kegiatan Metode pembelajaran inquiry: (a) merumuskan masalah, (b) mengamati atau melakukan observasi, (c) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lain, (d) mengomunikasikan atau menyajikan hasilnya pada pihak lain (pembaca, teman sekelas, guru, audiens yang lain).
Oemar hamalik (2007: 221menjelaskan bahwa proses inkuiri menuntut guru bertindak sebagai fasilitator, nara sumber dan penyuluh kelompok. Para siswa didorong untuk mencari pengetahuan sendiri, bukan dijejali dengan pengetahuan. Strategi instruksional dapat berhasil bila guru memperhatikan kreteria sebagai berikut:
1. mendefinisikan secara jelas topik inkuiri yang dianggap bermanfaat bagi siswa
2. membentuk kelompok-kelompok dengan memperhatikan keseimbangan aspek akademik dan aspek sosial.
3. menjelaskan tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok dengan cara yang responsif dan tepat waktu.
4. Intervensi utnuk meyakinkan terjadinya interaksi antara pribadi secara sedcara sehat dan terdapat dalam kemajuan pelaksanaan tugas
5. melakukan evaluasi dengan berbagai cara untuk menilai kemajuan kelompok dan hasil yang dicapai.
Metode inkuiri yang diintegrasikan dalam pembelajaran kelompok dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
1. Membentuk kelompok-kelompok inkuiri. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang intelektal dan keterampilan-keterampilan sosial
2. Memperkenalkan topik-topik inkuiri kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahami dan berminat mempelajarinya.
3. Membentuk posisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topik, yakni pernyataan apa yang harus dikerjakan. Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap masalah pokok.
4. Merumuskan semua istilah yang terkandung di dalam proposisi kebijakan.
5. Menyelidiki validitas logis dan konsisten internal pada proposisi dan unsur-unsur penunjangnya.
6. Mengumpulkan evidensi (bukti) untuk menunjang unsur-unsur proposis
7. Menganalisis solusi solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok
8. Menilai proses kelompok.
Metode inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa. Pada pembelajaan Sains metode inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa metode inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sains saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.
Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005).
Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini – sesuai dengan Taxonomy Bloom – siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.
Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.
Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.
Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.
Sumber: www.duniapembelajaran.com

December 10, 2011

Penawaran Les Bahasa Inggris


FORCE Discovery 2011 ………1,2,3 LIFT OFF!

WE HAVE LIFT OFF!!!
Planet earth and beyond Inquiry launched with squeals, shrieks, yahoo’s and open mouths this week as the students discovered space had come to Kaikoura Suburban School!
Shearwaters is now a black hole full of stars, planets, aliens, rockets and Nasa control station (lots of new Mac computers).
The purpose of our classroom is to really inspire our learning and curiosity for the unknown. Also to question information and its authenticity. We are going to think critically about all the information that we find during our research into planet earth and beyond.
A huge thank you to ITM for donating the black paper to make this all possible!


Leaf Cover – Term 2, 2011

In measurement this term we have been learning about area. With it being autumn we had great fun outside collecting lots of colourful leaves. When we were back in the classroom we each chose a leaf and discussed which leaf covered the most space and which one covered the least space. We then drew the outline of a tree and glued on some leaves.
At the end we gathered together and compared how much leaf space (area) our leaves took up, then we ordered our trees from the one that had the most leaf space to the one that had the least leaf space.

What did I notice?
As you worked I heard you discussing your trees, leaves, who had the biggest and smallest trees and who had the most leaves on their tree. You were using some great maths language. You were using all of the key competencies. You managed yourselves by being organised and focussed on your task. You were participating and contributing by discussing and sharing your observations. You were thinking, using language symbols and text and relating to others as you spoke to the class about your tree and leaf space. Well done, we now have some beautiful autumn trees on display in our classroom.
Our beautiful Autumn trees

Pukeko class experiments with kitchen chemistry.
M
The senior Pukeko class have been learning about proceduaral text.  We have had fun seeing how these are a good text form to learn about kitchen chemistry. These are all the things we have made.
Icecream in a bag,  made glue and cheese from milk, fried green eggs by adding the natural juice of a red cabbage  to the egg white.  The natural juice is an alkaline which changed the egg from white to green.
Over the weekend we have had a hardboiled egg in vinegar.  As vinegar is an acid this reacted  with the calcium carbonate of the egg and it’s shell.  We found that the acid had totally dissolved the shell of the egg and the egg was bouncy.

We have broken into groups to share our own choice of kitchen chemistry.One of the group made  rock candy and that is setting and forming crystals, another group has made  a folding egg, another group is going to make a lemonade volcano and another group made a speedy reaction with coke and mintos.
Kitchen chemistry is a cool way of learning about procedural text.
by Taylor and Hannah H



Katie preparing for the reaction


Library Fantail’s Compound Machines

Library Fantail’s Learning Story
Throughout this term we have been learning about simple machines. We have learnt what they are and how they help people make work easier. We have found out about levers, pulleys, wedges, screws, inclined planes and wheels and axles. We found out that simple machines help people to lift, pull, push, turn, split, cut or join things.
We now know that when two or more simple machines are used, they make a compound machine. Through all of our new learning we have been able to recognise how technology has changed from the past to the present and how much it has made life easier for all people. At the end of our learning about simple machines we had to make a compound machine out of recycled materials.
What was noticed?
I saw children very excited about being able to create a compound machine and the classroom was buzzing with ideas. The children used a bubble map to plan their creation. They drew pictures, wrote down their ideas and recorded what materials they wanted to use.
The time came for the children’s innovative ideas to be made. Our classroom was a hive of activity and everyone was very focused. If an idea didn’t work one way then another way was tried as real technologists do. WOW! Great reflection and problem solving was happening, stop and think, persistence, being organised, respect, communication, aiming for excellence and most of all fun! All of the key competencies were being used: thinking, using language symbols and texts, managing self, relating to others and participating and contributing. It was a fun filled morning. Everyone presented their machine to the class explaining the simple machines they had used to make their compound machine. Awesome work everyone!
Children’s Reflections:
Blake – I used ‘E’ for Excellence in “FORCE” and tried my best. I had a compound machine at the end.
Jack – I think I worked well with others sharing the materials.
Oliver – I used ‘C’ for communication in ‘FORCE’. I used my manners when I needed materials. I talked about my machine and I listened to others.
Rose – I worked well with others, shared materials and ideas and WOW! I had fun.
Bridget – I was ‘O’ for organised in ‘FORCE’ and I got my materials ready for construction.
I managed self.
Samantha – I used ‘R’ for respect in ‘FORCE’ and shared materials. I was careful when the hot glue gun was being used.
Alexander – I focused on making my machine. (Managing self.)
Maia – I was ‘persistent’ right to the end of making my machine. I used ‘stop and think’ to work out how I could use two or more simple machines to make my compound machine.
Seth – I used ‘Habits of Mind’ ‘persistence,’ ‘stop and think’ and ‘new ideas’ to make my compound machine. I was successful.
Timeka – It was a hard challenge. I worked out how I could use nearly all of the simple machines to make my compound machine.
Reuben – I had fun making every part! I got new ideas when I was working on my machine on how to put wheels on it.
Jacob – When something doesn’t work you change it. You use the ‘Habit of Mind’ ‘make it right.’
Our cool compound machines

Terrific Toys Models


Fyffe Force Learners are all very busy creating their terrific toys, each Inquiry class has chosen the toy design that best fits their design brief and they are now busy creating the first model to test and modify. Teachers have managed to convince husbands yet again to bring some expertise to the classroom (Thank you boys!)
Rainbow Roller (model 1)